Cegah Bullying Sejak Dini: Anak Berpotensi Menjadi Korban atau Pelaku, Simak Penjelasannya

oleh -
oleh

BIN, PANGKALPINANG- Kondisi remaja saat ini menghadapi realitas memprihatinkan. Kasus bullying semakin marak, bahkan terjadi sejak usia sekolah dasar. Anak-anak hidup di tengah berbagai tekanan yang mengancam kesehahatan mental mereka. Akibatnya, banyak anak kehilangan rasa aman, mudah cemas, bahkan tidak mengenal jati dirinya sendiri.

Hal ini diungkapkan peneliti pendidikan dari Yayasan Khoiru Ummah Bangka Belitung, Rokayah yang kini sedang menyelesaikan pendidikan S3 di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ketika menjadi narasumber Workshop Pendidikan: Cegah Bullying Sejak Dini di SKB Pangkalpinang, Jumat (13/2/2026).

Penting diingatkan lagi, kata Rokayah, apa itu bullying? “Bisa secara verbal yaitu kata-kata yang menyakitkan dan ejekan. Secara fisik berupa tindakan kekerasan langsung, dalam bentutuk sosial berupa pengucilan dari kelompok atau komunitas. Bahkan secara digital yaitu cyberbullying di media sosial,” bebernya.

Pertanyaannya, lanjut Rokayah, apa yang harus kita siapkan? Bukan hanya kurikulum, tetapi lingkungan jiwa yang sehat bagi anak-anak kita. Ini adalah fondasi utama pertumbuhan yang optimal.

“Rumah yang menerima, menciptakan rumah sebagai tempat anak diterima tanpa perbandingan. Sekolah yang mendukung dan menguatkan, bukan menekan potensi anak. Guru yang berperan sebagai pembimbing, bukan penghakim. Orang tua yang mau mendengar, bukan hanya menuntut dan melatih anak mengenali dan mengelola emosi seperti marah, sedih dan kecewa,” tutur Rokayah.

Rokayah menuturkan, anak berpotensi menjadi korban atau pelaku. Karenanya, orang tua harus paham bagaimana karakter anak dan pola asuh yang tepat dalam proses melejitkan potensi anak tanpa tekanan.

”Tidak ada orang tua yang menginginkan anaknya menjadi korban atau pelaku bullying. Namun tanpa sadar, lingkungan penuh tekanan bisa membentuk anak menjadi salah satunya,” kata Rokayah.

Anak lemah, kata Rokayah, bisa menjadi korban.Tekanan berlebihan membuat anak tidak percaya diri dan mudah menjadi sasaran bullying. Sebaliknya, anak keras berpotensi menjadi pelaku.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *